Rumah Hobit Songgolangit

Jogja emang bikin kangen. Enggak percaya? Dateng aja. Hahaha.

Dari sekian banyak destinasi wisata di Jogja, Sempatkan untuk mampir ke Taman Wisata Songgolangit. Lokasinya berada di seputar kawasan Mangunan.

Tempat yang indah, keren emang bikin Jogja jadi ngangenin.

Sampai bertemu di sana ya, teman. 😉

Iklan

Sepenggal cerita dari Sangiang

Sangiang…
tak pantas hilang,
Keindahanmu patut dikenang.

Pulau Sangiang, salah satu surga tersembunyi di selat Sunda. Lokasinya tidak begitu jauh dari dermaga Paku, Anyer, Provinsi Banten. Masih sedikit informasi tentang Pulau Sangiang, maka dari itu belum banyak juga yang berwisata ke sini. Lokasinya yang tidak begitu jauh dari kota Jakarta menjadikan tempat ini sangat cocok untuk mengisi liburan akhir pekan warga Jakarta dan kota-kota lain di sekitarnya. Cukup ditempuh 3-4 jam dari Jakarta menggunakan angkutan bus menuju Dermaga Paku, Anyer. Kemudian dilanjutkan menyebrang kurang lebih 1 jam dengan kapal motor. Aktivitas yang bisa dilakukan di sini antara lain snorkling, trekking pulau, berkemah sampai memancing. Ada juga objek wisata Goa Kelelawar dan beberapa puncak bukit pandang yang cocok untuk menyaksikan matahari terbit atau matahari terbenam.

Waktu keberangkatan pertama dari Dermaga Paku biasanya dilakukan pada pagi hari dengan mempertimbangkan cuaca di hari itu. Jika cuaca kurang bersahabat bisa dipastikan kapal akan diberangkatkan pada siang hari.
Selama di dalam kapal kita bisa melihat pemandangan Gunung Anak Krakatau di kejauhan serta pelabuhan Merak di sisi timur laju kapal.

Setibanya di Dermaga Sangiang yang menjorok di sebuah teluk, kapal motor harus melewati lebatnya hutan bakau yang masih asli. Di sini kita bisa melihat beberapa hewan khas penghuni rawa bakau seperti monyet, biawak, ikan-ikan kecil, kepiting, ular dan beberapa jenis hewan khas bakau lainnya.


Sampai di daratan Pulau Sangiang kita juga bakal disuguhi pemandangan yang masih alami khas pulau Sangiang. Rimbunnya pepohonan kelapa dan rumah-rumah penduduk lokal yang menempati pulau menjadi panorama yang mengesankan. Sebagian dijadikan homestay dan warung jajanan. Beberapa homestay juga terletak di pedalaman pulau yang bisa ditempuh kurang lebih 10 menit berjalan kaki dari dermaga. Di dermaga ini lah proses keluar masuk penduduk atau wisatawan dipantau, mulai dari barang bawaan sampai siapa saja yang datang pun semua tercatat.

Bicara soal sejarah Pulau Sangiang, dulunya pulau ini tidak berpenghuni dan hanya dijadikan pulau transit para nelayan selepas mencari ikan. Dulu, di sini masih banyak babi hutan, kera dan hewan bertanduk. Namun sekarang tinggal beberapa babi hutan dan kera saja. Di sisi pantai barat daya masih ada sejumlah buaya rawa. Lokasinya sengaja tidak pernah diusik untuk menjaga habitat aslinya.

Pemukiman tetap baru mulai ada sekitar awal tahun 90an di saat ada proyek pembangunan jangka menengah oleh pemerintah. Selepas proyek berakhir, para pekerja memilih untuk menetap di pulau. Beberapa nelayan sampai sekarang juga masih menjadikan Pulau Sangiang sebagai tempat transit hingga mendirikan tempat tinggal. Saat ini hanya ada 51 KK yang menempati Pulau Sangiang. Sebagian besar didominasi penduduk usia lanjut (manula) dan orang dewasa yang bekerja sebagai nelayan. Selain dari hasil laut untuk kebutuhan hidup, kebutuhan lainnya biasa mereka dapatkan dari hasil sumbangan perusahaan-perusahaan yang ada di daratan Anyer yang menyewa desa mereka untuk acara gathering. Sumbangan biasanya berupa bahan pokok makanan yang memang sulit diperoleh di sana. Begitu pun kunjungan wisatawan yang secara tidak langsung turut membantu menambah kebutuhan ekonomi mereka.


Wisata ke pantai memang tidak seru kalau tidak snorkling. Di Pulau Sangiang terdapat 2 spot snorkling yang mumpuni. Lagoon Waru dan Lagoon Bajo. Pemandangan bawah airnya sangat beragam mulai dari hard coral sampai soft coral. Buat yang suka berfoto saat menyelam, ada salah satu spot foto di mana terdapat container atau peti kemas yang sengaja ditenggelamkan untuk menjadi daya tarik spot snorkling Pulang Sangiang.

a15


Tempat kedua yang wajib dikunjungi di Pulau Sangiang adalah Goa Kelelawar. Untuk menuju ke sana kita harus menyusuri pedalaman hutan yang cukup lebat dan rapat. Tumbuh-tumbuhan masih terlihat asli dan besar-besar.
Dinamakan Goa Kelelawar karena di dalam goa banyak sarang kelelawar. Goa ini tak seperti goa pada umumnya. Kita tidak bisa masuk ke dalamnya karena mulut goa ini langsung menuju ke laut. Selain banyaknya kelelawar kita juga bisa melihat beberapa ikan hiu yang terkadang muncul ke permukaan untuk berburu kelelawar. Selama berada di sekitar goa pastikan selalu memakai masker penutup hidung dikarenakan bau kotoran kelelawar yang sangat menyengat. Bawa juga selalu lotion anti nyamuk untuk mencegah gigitan nyamuk hutan.


Mau merasakan sejuknya angin laut dari ketinggian? Setelah dari goa kelelawar segeralah menuju Puncak Harapan yang berada di Bukit Begal. Pemandangan di sini sangat menyejukkan mata. Kita bisa melihat hamparan laut luas sekaligus dengan pantai yang cantik di Pulau Sangiang. Tempat ini selalu menjadi tempat favorit untuk ajang berfoto para wisatawan. Walaupun sudah ada pagar pembatas yang terbuat dari kayu, harap berhati-hati jika berada di atas bukit. Hembusan angin yang begitu kencang bisa membuat jatuh siapapun yang terlalu dekat dengan bibir bukit.


Untuk menyaksikan matahari terbenam, pantai Sepanjang adalah lokasi yang tepat. Pantai ini tidak begitu jauh dari Puncak Harapan, cukup ikuti jalan setapak menuju hutan tepi pantai kurang lebih 15 menit kita bisa sampai ke sana. Tentunya dengan trekking, sama seperti kita menuju Goa Kelelawar. Namun sayang, pesisir pantainya masih kotor. Banyak sampah berserakan di mana-mana. Minimmya sumber daya pengelola menjadikan pantai ini masih belum bisa dibersihkan dari sampah-sampah rumah tangga yang terbawa air laut dari Pulau Jawa.

Matahari terbenam di Pantai Sepanjang, Sangiang.
Matahari terbenam di Pantai Sepanjang, Sangiang.

Abaikan sejenak sampahnya.
Pemandangan deburan ombak di sepanjang pesisir Pantai Sepanjang dan indahnya matahari terbenam menjadi daya tarik tersendiri. Pantai ini cocok banget untuk yang mencari kedamaian di sore hari.
Selain pemandangannya, Pantai Sepanjang juga merupakan lokasi yang pas untuk dijadikan lokasi berkemah.

Foto beberapa diabadikan oleh Saya, Mujibur Rahman, dan Tikno.
Segala informasi pada tulisan ini saya dapatkan dari Samuel Ferdianto, teman saya yang begitu sampai di sana sempat bertanya-tanya ke penduduk sekitar. 🙂

Special thanks to all my friend BF Traveller untuk tripnya yang berkesan 9 – 11 Desember 2016.

Saya dan Kawan-kawan BF Traveller :)
Saya dan teman-teman BF Traveller 🙂

Potensi wisata di Pulau Sangiang sebenarnya masih banyak yang belum terjamah dan belum dikelola cukup baik. Bagi teman-teman yang akan dan sudah berkunjung ke sini, yuk sebarkan informasi terbaik dan positif tentang pulau ini dengan cara kalian masing-masing. Semoga Pulau ini semakin dikenal dan semakin banyak yang berkunjung dan memberikan manfaat bagi penduduk setempat. Jangan lupa juga selalu jaga kebersihan di mana pun kalian berada.
Happy Travelling! 🙂

Kalisuci Cave Tubing : Pengalaman seru menyusuri sungai di dalam gua

5 Agustus 2016

Menjelang malam kami berdua tiba di stasiun Lempuyangan Jogja setelah menempuh 7 jam perjalanan dengan kereta api Bengawan. Saya dan Akbar kemudian melanjutkan perjalanan menuju rumah salah satu kerabatnya yang terletak tidak jauh di utara Tugu Pal Putih untuk menumpang bermalam sejenak. Sempat mampir di warung Soto Sokaraja milik warga setempat di bilangan Jalan Jendral Sudirman karena perut kami sudah terasa lapar. Ramai dan dingin, dua kata yang pas menggambarkan suasana Jogja malam itu. Sesampai di sana, kami menyemmpatkan berbincang sedikit dengan pemilik rumah yang juga merupakan kerabat dekat Akbar, bebersih diri kemudian lanjut beristirahat.
Sebelumnya 2 teman kami (Fadli dan Deri) dari Jakarta sudah terlebih dulu tiba di Jogja siang tadi dan menginap di Amaris Hotel. Sementara itu, Miftah dan Nirwan menurut kabar akan tiba besok pagi. Sabtu, rencananya kami akan berlibur bersama 3 teman kami yang tinggal di Jogja (Ujib, Nawa, Catur) menuju Cave Tubing Kalisuci dan beberapa pantai di sekitaran Gunung Kidul.

Dari kiri ke kanan (Deri, Akbar, Miftah, Saya, Nawa, Catur, Fadli dan Nirwan)
Dari kiri ke kanan (Deri, Akbar, Miftah, Saya, Nawa, Catur, Fadli dan Nirwan)

Sedikit informasi tentang wisata Cave Tubing Kalisuci. Lokasinya berada sekitar 60km atau 1,5 – 2 jam perjalanan dari kota Jogjakarta tepatnya berlokasi di Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul. Cave tubing di Gua Kalisuci ini sebenarnya adalah wisata Cave tubing yang pertama di Indonesia lho, jauh sebelum Gua Pindul mulai menawarkan wisata yang sama. Disebut “Kalisuci” karena terdapat mata air dan aliran sungai yang tetap jernih meskipun ketika musim hujan.
Cave  Tubing Kalisuci
Cave Tubing Kalisuci

Pukul 7 pagi kami semua sudah kumpul di Amaris Hotel untuk siap-siap berangkat dan menyempatkan sarapan serta ngobrol-ngobrol ringan. Kami menyewa mobil dan teman kami Nirwan bertindak sebagai driver. Ujib, tidak jadi ikut hari itu dikarenakan ada acara KKN Kampusnya. Tapi dia datang ke hotel kami hanya sekadar mampir untuk melepas kangen dengan kami. Jadilah kami berdelapan berangkat.
1477191179116
Perjalanan menuju Kalisuci tanpa hambatan yang berarti, kami tiba di Kalisuci tepat waktu, selepas ganti pakaian, kami bergegas membayar tiket dan langsung menemui pemandu untuk mendengarkan arahan mereka. Life jacket, helm dan semua peralatan yang diperlukan sudah terpasang sempurna di tubuh kami. Foto foto dulu biar eksis, kami pun langsung berjalan menyusuri jalan setapak menuju titik dimulainya cave tubing yang dipenuhi kiri kanan ladang jati dengan waktu tempuh sekitar 10 menit. Melewati tangga batu, dari atas sudah terlihat aliran sungai yang berkelok-kelok. Warna airnya biru kehijauan sangat kontras dengan tebing karst, rimbunnya pepohonan serta tanah di sekitarnya.
1470721700606
1477191367359
1477191232638

Pengarungan pun di mulai saat kami semua sudah duduk di atas ban pelampung. Mulai bergerak sesuai arus aliran air sungai satu per satu. Jarak tempuh cave tubing di Gua Kalisuci ini sekitar 500m, dengan kedalaman air 1 – 3m. Membutuhkan waktu ±1,5 – 2 jam menyusuri keseluruhan gua. Saat memasuki relung Gua Kalisuci, tak ada sinar matahari, yang ada hanya suasana remang dan gelap, namun kami masih bisa melihat stalaktit di atap gua yang meneteskan air, beberapa kelelawar yang bergelantungan di atap gua, ikan-ikan kecil, sangat syahdu dan hening yang membuat saya dan teman teman enggan untuk beranjak dari gua. Sambil sesekali pendamping kami yang profesional mengarahkan perjalanan, mereka juga bercerita tentang segala hal menarik yang dimiliki oleh gua-gua yang kami lewati. Namun sayang, arus tetap membawa kami untuk keluar dari keindahan perut bumi yang cantik dan eksotis ini. Arus membawa kami keluar menuju mulut gua dan kami menyempatkan turun dari ban untuk sekedar foto foto dan istirahat sejenak.

1477191348826

1472630094358
Usai foto dan berisitirahat di batu-batu besar, keseruan dimulai kembali saat memasuki jeram, ban akan melaju dengan cepat sambil berputar-putar mengikuti arus. Ada beberapa titik jeram penuh bebatuan yang sulit dilewati, bahkan Miftah pun sempat terbalik dan terjatuh dari ban. Untung saja tidak ada luka yang berarti. Semua kami rasakan dengan penuh kegembiraan dan canda tawa.
Cerita selanjutnya telah kami abadikan lewat foto-foto dan benar-benar menjadi pengalaman liburan yang tidak akan pernah kami lupakan.

1470721396484

1470721512984

1470721431579
Buat kalian yang mau liburan ke Cave Tubing Kalisuci, bisa jadi alternatif nih jika dirasa Gua pindul terlalu ramai. Cukup bayar retribusi sebesar Rp 5.000 dan tiket paket wisata sebesar Rp 70.000(minimal 5 orang). Wisata Cave tubing Kalisuci akan ditutup saat curah hujan tinggi. Tertarik untuk mencoba serunya wisata cave tubing Gua Kalisuci? Kontak langsung nomor pengelola yang ada di bio akun twitter @KalisuciCaveTub atau bisa menghubungi pengelola yang terdiri dari penduduk lokal beberapa hari sebelumnya untuk memastikan kondisi sungai. Contact person: Winarto (0877 3879 4513), Kendro (0878 3974 0730), Yanto (081 7412 2826).
Ingat ya! selalu jaga kebersihan dimanapun kalian berada.

Happy Traveling 🙂

Foto-foto adalah hasil jepretan Miftah, Nirwan dan lainnya.

1477191372139

Tergamang Timang

Rasa kekecewaan kadang sering hadir di tiap perjalanan. Entah ketinggalan transportasi, itenerary yang tiba-tiba berantakan, teman jalan yang tidak asyik, bahkan tempat wisata yang gak sesuai ekspektasi. Semua itu pasti menyisakan kekecewaan. Tapi, sebenarnya banyak hikmah lho dari kekecewaan yang kita alami selama perjalanan. Yang bisa bikin keseruan bahkan bisa tertawa-tawa sendiri saat mengingatnya. Saya mengalami salah satunya. Saat melakukan perjalanan ke salah satu pantai di selatan Jogja bersama teman. Tepatnya di Padukuhan Danggolo, Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kurang lebih 2 jam 15 menit perjalanan dari kota Jogja. Bila dari kota Wonosari sekitar 1 jam lebih.

a8

Pukul 10 pagi berangkatlah saya dengan sepeda motor dari rumah kediaman teman grup traveling saya yang bernama Aditya. Biasanya sih, saya sapa dia dengan panggilan Mas Adit, pria asal Bandung yang menyamar jadi orang Jogja. Saya mengenalnya di grup WhatsApp. Sempat pernah beberapa kali kami berkeliling menjelajah Jogja. Entah kali ini yang ke berapa kali, saya lupa. Bisa dibilang perjalanan kali ini tanpa hambatan alias mulus-mulus aja. Ini yang saya rindukan dari Gunung Kidul. Kalau kalian baru pertama kali ke sini gak akan pernah nyesel deh melewati jalan utama menuju pantai selatan Gunung Kidul ini. Selain kondisi jalan rapih dan berkelok-kelok, pemandangan yang disajikan pun sangat menyejukkan mata. Penuh dengan ladang, sawah dan perkebunan hijau milik warga. Rutenya hampir sama kok seperti ke arah Pantai Baron via Wonosari, sering-sering amati petunjuk jalan saja pasti mudah.
a9
Tiba lah kami di pertigaan akhir yang Google Maps tunjukkan, di situ ada papan penunjuk jalan. Ke kiri arah ke Pantai Nglambor dan Siung sedangkan ke kanan arah ke Pantai Timang. Kami ambil arah yang ke kanan. Hambatan pun mulai dirasakan di sini. Bisa di bilang pantainya cukup terpencil bila dari jalan utama, kami harus melewati jalan yang belum beraspal dan trek jalan yang turun naik serta berkelok. Kira-kira jaraknya 2 – 3 km. Kontur jalan untuk sampai ke lokasi pun masih bongkahan batu-batu kars. Jadi, harus hati-hati kalau kalian berkendara sepeda motor. Disarankan sih, gunakan motor bebek biasa, jangan matic kalau enggak mau seperti kami berdua yang hampir terjungkal.

Sampai di lokasi, kami memarkir sepeda motor terlebih dahulu, bergegas menuju lokasi pulau karang yang terkenal itu. Medannya agak naik menyusuri jalan setapak bebatuan kurang lebih 500m dari lokasi parkir. Wahhh.. Pantai Timang di depan mata. Yang menjadi primadona pantai ini adalah sebuah pulau karang kecil yang berada 50 – 60 meter dari garis pantai daratan Pulau Jawa. Menuju pulau tersebut kalian diharuskan menyebrang dengan sebuah alat gondola yang dibuat cukup apik oleh pengelola yang juga warga sekitar. Gondola ini yang menjadikan keekstreman tempat wisata Pantai Timang.
GAMANG.
Yah, ini yang saya rasakan. Saya tidak berani naik gondola tersebut. Padahal sepanjang perjalanan, yang ada dipikiran saya adalah saya harus naik. Tapi, ternyata takut ini membunuhku. Nyali ciut euy. Sementara Mas Adit sendiri pun juga tidak mau naik. Saya rasa dia takut atauu……
Sepanjang duduk-duduk di tebing itu pun, saya masih agak ragu, mau naik atau enggak? naik atau enggak?. Sempat memperhatikan pengunjung lain dan bertanya gimana rasanya naik. Tapi tetap aja, diri ini tidak ada penyemangatnya dan akhirnya hanya bisa menatap dari kejauhan dengan sebuah foto yang mengabadikan. Karena tidak jadi naik, kami pun berkeliling untuk sekedar menikmati pemandangan dan tak lupa untuk foto-foto.
a11

a6
Selepas foto-foto dan keliling-keliling sekitar tebing. Kami bergegas turun ke area parkir motor karena disebelah kiri saat menuju lokasi parkir ternyata ada pantai pasir putih yang cantik banget. Ehh, sebelumnya kami makan siang dulu di warung kecil sih, karena perut udah terasa lapar. Nasi goreng dan air kelapa muda jadi penyemangat kembali. Bermain-main sebentar di tepi pantai sambil foto-foto, perjalanan kami berakhir di pantai pasir putih ini sekitar jam 2 siang. Kemudian kami akan melanjutkan perjalanan ke Pantai Jogan dan Pantai Siung.
a7

a12

a10
Buat kalian yang mau ke sini, kalian mesti, harus, kudu, wajib banget coba buat naik gondola dan menyebrang ke Pulau Timangnya (jangan kayak saya). Jaraknya kurang lebih sekitar 50-60 meter dari tepi daratan pulau Jawa. Tapi disarankan kalau mau menyebrang pastikan cuaca tidak sedang buruk atau keadaan gelombang yang tidak tinggi, apabila dipaksakan akan sangat berbahaya.

Perlu kalian tahu nih, wisata ini masih dikelola oleh kumpulan warga masyarakat disana dan belum dikelola secara resmi oleh Pemerintah. Jadi, wajar segala fasilitas dan infrastrukturnya masih minim. Harap maklum ya! Tiket retribusi akan diminta saat memasuki gerbang utama selepas dari jalan utama. Seikhlasnya. Kemudian bayar parkir untuk sepeda motor sebesar Rp 2.000 dan mobil Rp 3.000. Harga untuk menyebrang ke pulau dengan gondola sebesar Rp 150.000 bolak balik. Jika hanya sampai setengah jalan cukup bayar Rp 50.000. Disana, kalian juga gak perlu takut kelaparan. Banyak warung-warung kecil yang menyediakan makanan ringan yang dikelola oleh warga sekitar. Ingat yah! Selalu jaga kebersihan dimana pun kalian bepergian.

Happy Traveling 🙂
a9

a3

Kegilaan selfie di Top Selfie Kragilan

5 Juli 2016

Pernah gak sih pas kalian mau ke suatu tempat, ehh jadinya malah galau?. Ini saya rasakan pas pagi-pagi mau ke Candi Borobudur. Bukan gak suka sama Candi Borobudur, cuma saya udah puas aja tiga kali ke sana dan sepertinya cuaca bakalan panas siang nanti. Udah setengah jalan, akhirnya saya memutuskan berhenti di pinggir jalan sambil buka Instagram buat nyari tempat-tempat hits seputaran Magelang. Akhirnya saya menemukan satu lokasi yang cukup menarik nih. Nama lokasinya Top Selfie Kragilan. Objek wisata yang lagi hits di social media semacam Instagram baru-baru ini. Sempet lihat-lihat beberapa foto lokasinya di akun-akun socmed dan sepertinya memang keceh. Cek google maps, putar arah dan langsung meluncur.A4
Berada di Kaponan, Pakis, Magelang terletak di kaki gunung Merbabu. Letaknya yang berada di antara pegunungan membuat pesona alamnya sangat indah. Menuju ke sini kalian disuguhkan indahnya pemandangan gunung Merbabu serta perkebunan-perkebunan masyarakat sekitar dengan udara sejuk khas pegunungan. Tidak jauh kok dari pusat kota Magelang.

Saya berangkat dari kota Jogja dengan mengendarai sepeda motor. Rute yang saya ambil melalui Jalur Muntilan/Blabak – Ketep Pass. Ambil arah Jalan Raya Magelang hingga menemui pertigaan dengan petunjuk arah kanan ke Ketep Pass. Lalu ambil arah kanan via Jalan Raya Blabak Mungkid, selanjutnya tinggal ikutin jalan hingga sampai di depan objek wisata Ketep Pass. Dari situ ambil lurus melewati jalur ke arah Kopeng, kurang lebih 4 km dari arah Ketep Pass di kiri jalan akan terlihat gapura yang bertuliskan Top Selfie Kragilan. Estimasi waktu dari kota Jogja diperkirakan 1 – 2 jam dengan mengendarai sepeda motor. Jika kalian menggunakan mobil bisa 2 jam-an lebih.

Gapura menuju lokasi
Gapura menuju lokasi

Ada 2 jalur alternatif lagi nih menuju lokasi ini. Pertama, jika kalian dari arah Kopeng/Salatiga ikuti jalur ke arah Ketep Pass, lokasi gapura akan terlihat di sebelah kanan. Kedua, kalau kalian dari arah Boyolali ambil jalur ke arah Ketep Pass, kemudian ikuti rute seperti yang dilalui oleh jalur Muntilan/Blabak. Lagi-lagi patokan utamanya adalah Ketep Pass. Hhehe 🙂

Untuk ke lokasi ini sangat disarankan dengan sepeda motor, apabila menggunakan mobil kalian harus berhati-hati dikarenakan jalur mendekati Ketep Pass berkelok dan sedikit rusak. Begitupun jalur di sekitar lokasi pinus yang begitu sempit hanya berupa satu jalur kendaraan dan akan sangat menyulitkan jika berpapasan. Selain itu lahan parkir mobil juga masih terbatas.
IMG_20160707_113546_HDR_wm
Sewaktu saya ke sana pengunjung masih rada sepi. Jadi masih sempet buat foto-foto dulu. Oh iya, saya rada gagal paham nih kenapa lokasi ini dinamakan Top Selfie. Saya coba bertanya ke salah satu pengunjung, katanya karena di sini banyak spot untuk foto-foto yang dimanfaatkan pengunjung buat berselfie. Entahlah mana yang benar.

Numpang foto biar hits ;)
Numpang foto biar hits 😉

Disini saya jumpai ada beberapa spot untuk foto seperti ayunan, bangunan dari bambu mirip rumah pohon, beberapa spot yang mirip di Kalibiru, flying fox mini, dan tentunya spot yang paling hits untuk berselfie yaitu jalan turunan yang menuju parkiran. Gak heran kalo pengunjung beramai-ramai mengambil foto a.k.a selfie di spot ini. Buat foto prewedding juga oke lho.

Setelah tanya-tanya lagi, ternyata pencetus nama Top Selfie adalah warga Kragilan sendiri. Mereka bilang banyak pengunjung yang selalu memotret dengan gaya selfie di beberapa spot. Lah! Bukannya sekarang emang lagi jamannya selfie yah? 😀
IMG_20160707_113716_HDR_wm

IMG_20160707_113716_HDR_1467900996755_wm

Top Selfie Kragilan
Top Selfie Kragilan

Mereka juga yang mengelola, mengembangkan dan mempromosikan objek wisata ini hingga menjadi populer sampai sekarang lho. Mulai dari menjaga loket masuk, menjadi pemandu dan mengatur hilir mudik pengunjung. Pokoknya salut deh!
Sebelum pulang pastinya saya kembali melewati spot yg populer ini. Setelah diamati, memang lebih banyak pengunjung yang selfie ketimbang foto beramai-ramai. Ada ada aja ya 🙂

Buat kalian yang mau socmed nya hits apalagi suka selfie, gak ada salahnya ke sini. Tiket masuk cukup Rp 2.000 saja. Tapi ingat! Selalu jaga kebersihan dimanapun kalian berada, ambil foto sewajarnya, jangan selfie berlebihan dan jangan merusak apapun ya.

Happy Traveling! 😉

Jalan Soekarno Hatta menuju Candi Borobudur
Jalan Soekarno Hatta menuju Candi Borobudur

 

 

Eksplore Candi Sambisari dan Candi Abang

4 Juli 2016 hari itu saya memutuskan untuk ke Candi Sambisari. Di mana candi ini terkenal karena berada 6,54 meter di bawah permukaan tanah. Nah setelah persiapan lengkap, sudah mengecek google maps dan sepeda motor, saya pun siap meluncur. Rute untuk menuju candi ini sangat mudah di akses dari kota Jogja. Kalau dari hostel saya menginap (EDU Hostel), ambil arah ke utara menuju arah Jalan Raya Jogja – Solo atau arah Bandara Adi Sutjipto. Nah dari arah pertigaan bandara ini masih lurus terus sampai nanti kita ketemu sama AAU (Akademi Angkatan Udara) yang ada di sebelah kanan kalau dari arah Jogja.  Sambil jalan pelan-pelan  di lajur kiri nanti akan ketemu pertigaan kecil, nah ambil ke kiri lurus terus sampai mentok ketemu tikungan jalan aspal entar udah keliatan kok pagar Candi Sambisari.

PANO_20160705_111156
Candi Sambisari

 

Setelah sampai, saya diharuskan bayar tiket masuk sebesar Rp 2.000 nih, murah kan untuk sejenis wisata candi. Sebelumnya sepeda motor udah saya parkir di salah satu rumah warga yang memang dikhususkan untuk parkir kendaraan. Begitu masuk saya disuguhkan bangunan mahakarya keren. Bener lho, ternyata bangunannya memang berada lebih rendah dari permukaan tanah di sekitarnya.

Waktu saya sampai ke sini belum ada pengunjung, bisa dibilang saya yang pertama. Taman di sekitaran candi lumayan keren, tertata rapih, bersih dan ada beberapa fasilitas umum lengkap seperti toilet dan mushola. Hal ini gue rasain saat berteduh sebentar sebelum mengelilingi candi. Maklum, cuaca sangat panas pagi hari itu.

Cukup lama berteduh, saya putuskan buat turun ke bawah berkeliling melihat-lihat sekalian foto-foto.  Oh iya, sekedar info dulu candi ini ditemukan secara tidak sengaja oleh petani desa Sambisari pada tahun 1966 yang sedang mencangkul sawah milik warga setempat. Kemudian dilaporkan ke pihak berwenang kala itu, untuk dilakukan penggalian dan pada tahun 1986 dilakukan pra pemugaran dan penyusunan sehingga menjadi seperti sekarang ini. Tentunya dengan memakan waktu yang cukup lama sampai candi ini bisa kita nikmati sampai sekarang.

IMG_20160705_110709_HDR_wmIMG_20160705_112519_HDR_wmIMG_20160705_112343_HDR_wm

IMG_20160705_112409_HDR_wm

Candi ini beraliran Hindu Syiwa yang tampak pada beberapa reliefnya dan dibangun pada abad ke-9 pada masa pemerintahan raja Rakai Garung pada zaman Kerajaan Mataram Kuno. Cerita lebih jelasnya atau penasaran, gak ada salahnya kalian berkunjung ke Candi Sambisari, Purwamartini, Kalasan, Sleman. Kira-kira 12 km di sebelah timur kota Yogyakarta ke arah kota Solo atau kira-kira 4 km sebelum kompleks Candi Prambanan.

 

 

Jam 12 siang, masih ada waktu buat saya jalan-jalan lagi selepas dari Candi Sambisari. Akhirnya saya memutuskan buat ke Candi Abang. Candi yang bikin saya berekspektasi cukup besar kala itu. Dari pertama kali ke Jogja sebenernya saya penasaran sama nih candi karena bentuknya yang unik tak seperti candi pada umumnya, malah lebih seperti bukit.

IMG_20160705_131838_wm

Keluar dari pertigaan awal yang mau ke Candi Sambisari, ambil kiri masih menyusuri Jalan Raya Jogja – Solo, lurus terus sampai bertemu dengan Rumah Sakit Panti Rini di sebelah kiri. Kemudian ambil arah putar balik hingga bertemu dengan pertigaan Jl Opak Raya, dari situ selanjutnya saya mengandalkan gps karena sebenarnya lokasi sudah dekat kok. Hhehe..

Sebelumnya saya sudah berkali-kali  buka Instagram buat ngeliat bangunan tersebut. Dan saya berpikir candi tersebut sangat besar dan berada di tengah tanah lapang yang terbuka. Maka dari itu, saya berpikir pasti akan keliatan dari kejauhan jalan. Namun, saya pun belum melihat bentuknya meski gps yg saya gunakan sudah mendekati ke arah candi. Setelah sampai lokasi yang sesuai dengan gps, saya bingung. Candinya kok gak ada ya? Padahal saya berdiri tepat tidak jauh dari lokasi yang gps tunjukan. Yang terlihat hanya sebuah bukit kecil semak belukar yang di tumbuhi pepohonan besar di depan mata. Di kaki bukit tersebut memang ada beberapa rumah warga, namun saat itu terlihat sepi tak ada satu pun warga untuk bertanya.

Saya mencoba mendekati salah satu rumah yang terdapat 3 sepeda motor di depannya. Setelah dekat, terpampang nyatalah sebuah papan bertuliskan “Parkir Candi Abang, Motor Rp 2000”. Hah! Bingung lagi. Dimana candi Abangnya?

Muncul seorang ibu dan akhirnya saya bertanya.

“Candi Abang di sini, Bu?”

“Iya, dek. Ada di atas, naik saja.”

“Oh gitu, terima kasih ya, Bu.”

Saya tersenyum dan memutuskan naik.  Jalan setapaknya cukup terjal persis mendaki gunung. Sebenarnya masih ragu juga, apa benar candinya di sini? Entahlah, tapi saya tetap  mencoba naik. Setelah puncak terakhir, saya baru paham ternyata tanah lapangnya memang ada di atas, namun tertutup oleh beberapa pepohonan di sisinya sehingga memang tidak terlihat dari bawah atau daerah sekitarnya. Dan akhirnya saya pun sampai juga di titik Candi Abang. Bentuknya tidak jauh berbeda dengan foto-foto yang ada di Instagram. Tidak ada pungutan tiket masuk, alias GRATIS.

IMG_20160705_133122_HDR_wm
Jalan ke atas menuju Candi Abang

Lagi dan lagi, tidak ada pengunjung lain selain saya. Lalu 3 motor keren di bawah tadi milik siapa? Entahlah. Berhubung cuaca sangat panas, saya cuma muterin candi sebentar dan mencoba naik ke puncak setelah melihat papan informasi tentang asal usul Candi Abang. Candi ini dibangun pada sekitar abad ke-9 dan ke-10 pada zaman Kerajaan Mataran Kuno. Berbentuk seperti piramid dan dinamakan Candi Abang karena terbuat dari batubata berwarna merah (abang dalam bahasa jawa).  Batubata nya bisa dilihat bila kita naik ke puncak Candi. Bentuk ukurannya berupa segiempat 36m x 34m dan banyak ditumbuhi rerumputan sehingga nampak mirip seperti gundukan tanah atau bukit kecil. Nah menurut warga sekitar, bila bukit ini digali akan nampak wujud seperti bangunan candi. Tapi, saya belum tau nih, alasan kenapa belum ada percobaan untuk digali. Siapa tahu aja, bangunan candi didalamnya bakal lebih keren.

IMG_20160705_131923_HDR_wm
Papan Informasi

 

Puas, saya memutuskan untuk turun dan balik ke kota Jogja. Bayar parkir cukup Rp 2000 aja, saya memilih jalan pulang yang berbeda yaitu melewati Jalan Raya Wonosari, karena rute jalan ini lebih familiar buat saya dan tetap masih mengandalkan gps juga sih, haha.
Happy Traveling! 🙂

 

 

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.